page

Wednesday, 25 May 2011

pengaruh obesitas

Lemak yang menumpuk bisa menjadi sarang penyakit. Tak hanya dapat merusak hati, sendi, dan arteri, atau memicu penyakit jantung dan stroke, tetapi juga kerja otak. Kelebihan berat badan dapat mengubah struktur fisik otak dan memicu masalah memori.

Kelebihan berat badan dapat mengubah cara berpikir manusia. Seperti zat adiktif, otak akan menginginkan makanan dengan kadar kalori lebih tinggi dan semakin tinggi. Menurut penelitian Institut Scripps di Florida, makanan meningkatkan kadar dopamine sehingga memicu rasa kesenangan di otak, sama seperti kokain, dan heroin.



"Masalahnya adalah kita berevolusi dalam melihat makanan. Makanan yang bergula dan berlemak adalah hal yang menarik karena dalam periode lapar atau kekurangan makanan, merekalah yang menyelamatkan kita," ujar Dr Tony Goldstone, konsultan endokrinologi di Imperial College Healthcare NHS Trust, seperti dikutip dari Daily Mail.

Bulan lalu, peneliti dari Institut Karolinska di Swedia mengatakan bahwa risiko demensia atau rusaknya fungsi kognitif, terjadi 71 persen lebih tinggi pada orang dengan obesitas. Menurut para peneliti, hal tersebut disebabkan penyusutan otak yang dipicu timbunan lemak.

Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa orang dengan obesitas memiliki ukuran otak 4-8 persen lebih kecil dibanding mereka yang memiliki berat badan normal.

"Hal ini karena darah tidak dapat melalui otak dengan mudah sehingga otak kekurangan oksigen dan beberapa sel otak mati," ujar Paul Thompson, profesor neurologi di Universitas Los Angeles.
Kondisi itu juga dapat mempercepat penuaan pada sel otak. Para peneliti telah meneliti 100 orang berusia di atas 70 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa otak pada orang dengan obesitas tampak delapan tahun lebih tua dari rekan mereka yang sehat. Perhitungan ini berdasarkan kenyataan bahwa orang akan kehilangan 0,5 persen otaknya selama setahun.

"Jika mereka kehilangan delapan persen dari ukuran otak mereka, maka mereka lebih tua 16 tahun dari mereka dengan berat badan normal. Hal tersebut tidak akan membunuh Anda, tapi ketika otak menyusut 10 persen, maka jaringan otak telah mati," ia menambahkan.

Bagian otak yang mengalami penyusutan adalah yang bertanggung jawab pada penalaran, penilaian, dan pengolahan kenangan jangka panjang. Otak yang menyusut tidak akan tahan pada protein abnormal yang disebut plak, yang dapat membunuh sel otak sehingga mengakibatkan Alzheimer.

Hal ini dibuktikan dengan melihat komposisi komponen dari sistem syaraf pusat yang disebut grey matter dan white matter pada otak. Grey matter betanggung jawab sebagai 'pemikir' dan terlibat dalam pengendalian otot, pengelihatan, pendengaran, memori, emosi, dan kemampuan bicara.

Sedangkan white matter berfungsi sebagai jalan raya syaraf untuk menghubungkan sel syaraf yang satu dengan yang lain. Mereka yang obesitas, menurut penelitian, memiliki grey matter lebih sedikit dan white matter lebih banyak dari orang-orang normal.

Namun, dapatkah penurunan berat badan atau operasi obesitas dapat mengembalikan daya ingat dan fungsi kognitif? Para peneliti dari Universitas Kent State, Ohio, mengatakan hal itu mungkin terjadi.

Mereka meneliti 150 orang dengan obesitas yang menjalani operasi sedot lemak. Sekitar 12 minggu setelah operasi, mereka menunjukkan perbaikan memori dan gerak tubuh. Pengujian dilakukan dengan mengingat kata-kata, pemecahan masalah, dan waktu reaksi.

Menurut John Gunstad, pemimpin penelitian, hal itu karena adanya perubahan tekanan darah dan glukosa ke arah yang lebih baik. Selain itu, mereka yang obesitas biasanya mengalami gangguan tidur sehingga mengganggu konsenterasi ketika bangun.

sumber : vivanews.com

No comments:

Post a Comment

jangan lupa dengan komentarnya ^^

Post a Comment